Seputar “Inception”

July 21, 2010

Untuk memulai, saya harus memberikan salut terlebih dahulu kepada Christopher Nolan sebagai penulis cerita sekaligus sutradara dan produser dari film yang hebat sekaligus brengsek ini.

Selama dua jam setengah, kita disuguhkan hasil karyanya Nolan ini. Tentu sangat membuat kepala pegal, baik karena kompleksitas keseluruhan cerita, ketidakmasukakalan yang masuk ke kepala kita, atau pun ketidakmengertian bagi beberapa orang. Bagi saya, film ini benar-benar menyebalkan karena penuh dengan kejanggalan dan pengganggu di dalamnya. Akan tetapi film ini sekaligus sangatlah menarik bila ditilik dari sisi kompleksitas cerita, sinematografi, dan pesan dari tema-tema yang diangkat. Hal ini membuat saya terpaksa menulis ini sebagai sebuah muntahan dari kepala. Berikut penjabarannya.

Kejanggalan:

1. Yang paling dasar dan menyebalkan adalah ide inception itu sendiri. Ide yang ingin ditanamkan Cobb dan timnya kepada Fischer adalah bahwa Fischer sebaiknya menjadi diri sendiri saja. Tidak perlu pusing dengan apa yang kira-kira menjadi harapan ayahnya. Mengapa untuk menanamkan sebuah ide yang sangat sederhana seperti itu saja dibuat seakan-akan sangat rumit jalannya menuju ke sana. Maksud saya adalah, semua anak yang sudah dewasa atau mandiri pasti akan memilih jalan hidup yang ia pilih sendiri, tidak selalu jalan yang diinginkan orang tuanya. Saya juga tidak melihat alasan yang kuat mengapa Fischer merasa terbebani untuk seakan-akan harus melanjutkan bisnis sang ayah, walau pun alasannya adalah cinta terhadap ayahnya. Itu sulit untuk diterima, apalagi kepada seorang ayah yang saat istrinya meninggal berkata kepada anaknya sendiri, “There is nothing to be sad about!”

2. Ada adegan di mana mereka sedang rapat di markas. Lalu masuk ke dalam mimpi level satu yang dibuat oleh Ariadne. Di tengah jalan kota itu mereka berdiri hanya berenam. Tidak ada subconscious-nya (orang-orangan/projections) siapa pun yang hadir di situ. Hal ini jelas tidak sesuai dengan logika film yang dibuat Nolan. Karena bila ternyata sebenarnya kemunculan subconscious itu bisa diatur, hal tersebut sangat berlawanan dengan pernyataan Domm saat memberikan workshop kepada Ariadne, “They’re my subconscious. I have no control of them!”. Di mana berarti hukum yang sebenarnya adalah bahwa subconscious tidak bisa diatur oleh si pemimpi.

3. Bila Mal selalu datang untuk menghancurkan misi-misi Cobb (atau katakanlah dalam mimpi-mimpi Cobb). Apa yang membuat dia tidak muncul pada level satu?

4. Pada misi yang pertama. Saat Nash mendorong Cobb sampai terjatuh di air dalam bak untuk membangunkannya dengan sebuah ‘kick’, di dalam mimpi level dua Cobb didatangi banjiran air saat selesai membaca rahasia Saito. Apa yang membuat sama sekali tidak ada air di dalam lift level dua saat mobil mereka di level satu tenggelam di sungai?

5. Apa yang membuat di dalam Limbo tidak ada subconscious-nya (orang-orangan/projections) milik Cobb atau pun Mal. Karena Saito yang berada di sana hidup bersama subconscious-nya sendiri (penjaga-penjaga yang menangkap Cobb).

6. Apa juga yang membuat usia Saito di dalam Limbo sangat jauh lebih tua dari Cobb? Bila karena jangka waktu antara Saito yang meninggal setelah melempar granat dengan Cobb dan Ariadne yang masuk ke dalam Limbo, apa yang membuat Fischer yang diikat Mal di sana tidak tampak tua sedikit pun? Padahal jangka waktu Fischer dan Saito masuk ke dalam Limbo sangat tidak jauh berbeda!

7. Kejanggalan yang terakhir jelas. Adegan kecil yang membuat hampir semua penonton “digantungin” oleh Nolan. Berputarnya spinning top milik Cobb yang lalu diputus begitu saja oleh Nolan dengan layar hitam, tanpa sedikit pun petunjuk apakah benda itu jatuh atau tidak. Membuat kita tidak bisa berkesimpulan apakah itu mimpi atau realita. Karena bila ternyata itu adalah mimpi, itu berarti mimpi Cobb di dalam Limbo. Sulit untuk di-masuk-akal-kan karena menurut logika film tersebut, di Limbo saja (yang juga bisa dibilang level 4) sudah sangat sepi (tanpa projections of subconscious), apa yang bisa membuat mimpi level 5 begitu ramai? Akan tetapi bila itu adalah realita, apa maksud dari adegan terakhir spinning top yang tidak jatuh-jatuh? Mengapa kedua anak Cobb berpakaian sama dan dalam posisi yang sama seperti di mimpi-mimpinya? Mengapa juga tidak ditunjukkan sang nenek yang berbicara di telfon dengan Cobb setelah ia berbicara dengan kedua anaknya? Saya rasa untuk mengatakan itu semua hanya keisengan Nolan (dalam menciptakan adegan-adegan itu) adalah satu-satunya yang masuk akal. Tetapi itu pun jelas sangat kurang memuaskan.

Pengganggu:

1. Kalimat yang dilontarkan ayahnya, saat Cobb meminta bantuan untuk arsitek baru. Ayahnya berkata, “Come back to reality, Cobb! Please!” entah ini metafor sindiran atau bukan, yang jelas ini mengundang sebuah interpretasi bahwa sebenarnya Cobb hanya sedang bermimpi, dan ayahnya lah yang menginginkan Cobb untuk bangun. Karena biar bagaimana pun, dia lah yang mengajarkan Cobb untuk memanipulasi pikiran orang melalui mimpi, yang berarti ada kemungkinan ayahnya lebih piawai daripada Cobb dalam memanipulasi pikiran orang lain melalui mimpi. Akan tetapi hal ini akan terbentur dengan hukum yang diciptakan dalam film tersebut mengenai spinning top yang berputar. Dan bila ternyata level realita itu adalah mimpi berarti hukum spinning top pun tidak begitu penting, bahkan tidak berlaku. Bila demikian, adegan terakhir yang brengsek itu berarti bukan masalah. Akan tetapi, bila adegan itu bukan lah sesuatu, mengapa Nolan memilih untuk terlalu iseng memasang adegan itu sebagai penutup? Bisa jadi memang karena adegan itu sebenarnya memiliki arti, “This is the most important thing! Your totem! The Power of your mind! Keep it strong and safe! Don’t let anyone touch it, so they won’t infect your mind!”. Hal ini menjadikannya sangat multi-tafsir.

2. Saat Cobb menceritakan semuanya mengenai dia dan Mal kepada Ariadne. Kita tidak diberi petunjuk oleh Nolan, di level mana kah cerita Cobb dan Mal yang menjadi realita? Karena bila realitanya adalah level di mana Mal melompat dari gedung, tentunya pasti Cobb sedang berada di dalam penjara karena disangka membunuh Mal. Dan kedua anaknya tidak mungkin mempertanyakan ibunya. Karena pasti ada upacara pemakaman dan sebagainya sehingga anak-anaknya tidak perlu menanyakan kepada Cobb mengenai keberadaan ibunya seperti percakapan yang terjadi di telfon. Tetapi juga, bila level di mana Mal melompat dari gedung itu adalah mimpi, mengapa Mal harus mati? Bila toh, dia terdampar di dalam Limbo, mengapa Cobb tidak menjemput Mal seperti ia menjemput Saito? Ini membuat ketidakjelasan kematian Mal bisa dinobatkan sebagai pengganggu besar.

3. Adegan di basement Yusuf saat melihat banyak orang-orang tua tidur. Eames bertanya kepada kakek-kakek penjaga, “Do they come here to sleep?”. Sang kakek menjawab “They don’t come here to sleep. They come here to be woken up. The dream has become their reality. Who are you to say otherwise?”. Yang aneh adalah, jawabannya itu diarahkan kepada Cobb dengan penuh kesinisan, sementara yang sebenarnya bertanya adalah Eames. Ini mengundang interpretasi seperti poin satu di atas. Ada kemungkinan realita di level itu adalah mimpi. Belum lagi saat Cobb mencoba alat itu dan langsung jatuh ke mimpi bersama Mal lalu tersentak bangun dan pergi ke kamar mandi untuk memeriksa apakah dia sedang bermimpi atau tidak dengan spinning top-nya, ia dikagetkan Saito yang tiba-tiba datang. Spinning top itu pun terjatuh dan tidak jadi diputar. Ia langsung mengangkatnya lalu dimasukkan ke dalam kantong. Tidak ada penegasan apakah itu mimpi atau bukan. Tetapi bila itu mimpi, permasalahannya sama seperti pada poin satu di atas.

4. Lagi-lagi! Selain menjadi kejanggalan, adegan terakhir juga saya masukkan ke dalam golongan pengganggu.

Kemenarikan:

1. Tak bisa dipungkiri Christopher Nolan sangat piawai dalam membuat kita berhasrat untuk menggali lebih dalam mengenai karyanya ini. Dengan begitu, bila itu ternyata yang ia inginkan, berarti dia adalah “Sang Inseptor” bagi kita. Hal ini memang antara menarik atau “Dasar, Nolan Brengsek!”

2. Tak bisa dipungkiri juga aksi-aksi di dalam film tersebut sangat dahsyat sinematografinya (setidaknya bagi saya).

3. Pesan-pesan yang terkandung dalam tema-tema yang Nolan coba untuk angkat di dalam film ini juga sangat dalam (setidaknya bagi saya), ditambah dengan kemasan yang juga tak kalah menarik. Tema dan pesan yang saya temukan antara lain adalah mengenai

(a) Cinta,

“You’re waiting for a train, a train that will take you far away. You know where you hope this train will take you, but you don’t know for sure. But it doesn’t matter. Because we’ll be together.”

(b) Buruknya hidup dengan penyesalan,

“Do you want to become an old man, filled with regret, waiting to die alone?”

(c) Kepercayaan,

“Take a leap of faith!”, dan

(d) betapa pentingnya kebersamaan keluarga. Biar bagaimana pun, hal ini yang menjadi inti narasi, betapa Cobb sangat ingin hidup kembali bersama kedua anaknya di dalam dunia nyata.

4. Dari semua keganjalan-keganjalan dan pengganggu-pengganggu yang saya temukan, hanya ada satu dari mereka yang bisa saya temukan jawabannya, yaitu mengenai adegan yang tadinya saya anggap paling brengsek, yaitu adegan terakhir. Untuk merespon apakah bagian akhir itu mimpi atau realita, menurut saya jawabannya terdapat pada kalimat si kakek tua yang menjaga orang-orang lansia yang tidur di basement milik Yusuf, saat ia berkata kepada Cobb, “They don’t come here to sleep. They come here to be woken up. The dream has become their reality. Who are you to say otherwise?”

Menurut saya, kira-kira itu lah pertimbangan Nolan mengapa ia memasukkan adegan terakhir itu. Ia meneruskan keraguan a la Descartes dalam memutuskan ketidakpastian apakah hidup kita sekarang ini mimpi atau bukan, bahwa tidak ada jaminan untuk jawaban yang absolutnya. Nolan tidak ingin kita memutuskan mana yang mimpi, dan mana yang nyata. Karena, “Who are we to say which is which? And who are we to say otherwise?”

Sekian dari saya…..

Selanjutnya, dibuka kritikan, masukkan, dan pendapat-pendapat yang mungkin belum terpaparkan….

Terima kasih..

Seputar Catur

April 21, 2010

“Some people dismiss it as a game, some consider it as science, it’s neither, it’s art!”

–        Bruce Pandolfini (Searching for Bobby Fischer)

Begitulah kata seorang master catur yang terkenal telah menjadi mentor pecatur-pecatur yang kini telah menjadi Grandmaster, seperti Fabiano Caruana dan Josh Waitzkin. Catur memang dikenal sebagai sebuah permainan. Tetapi kata “permainan” itu sendiri sebenarnya adalah sebuah bentuk reduksi peyoratif untuk dikenakan sebagai konotasi catur itu sendiri, mengingat pada hakikatnya ia bukan hanya sekadar permainan, melainkan sebuah substansi yang bentuk materialnya hanyalah papan dan plastik atau pun kayu, tetapi bentuk formalnya adalah ruang dan waktu, di mana dua mind sedang bergelut dalam sebuah ruang metafisis yang menyembunyikan sebuah harmoni dan keindahan di balik sebuah kompleksitas yang sepintas tampak seperti chaos.

Dengan asumsi-asumsi yang seperti ini lah catur bisa dikategorikan sebagai science dan juga art. Seperti para scientist yang mencoba mencari logika yang tersimpan di dalam sebuah kompleksitas kosmos serta kehidupan yang juga sepintas terlihat sangat tidak teratur (chaotic), catur juga memiliki sifat yang demikian. Yang menarik adalah, kosmos dan kehidupan itu memiliki sifat yang infinit (jika ada sebuah teori yang menyatakan bahwa ia finit, bagi saya hanyalah sebuah belief), sedangkan catur hanya terbatas dalam 64 kotak dan 32 bidak.

Dalam pengkategoriannya sebagai art, catur dinilai oleh orang-orang yang menggandrungi atau mendedikasikan hidupnya untuk catur sebagai (parafrase saya) “ruang dan waktu yang estetis”. Di dalam ruang dan waktu itu, manusia bisa mengalami semacam trance, tenggelam dalam dunianya sendiri untuk mencari atau pun menikmati sebuah wujud keindahan yang memang sebagaimana kita ketahui tentang keindahan, sangatlah abstraktif.

Marcel Duchamp, seorang seniman Perancis yang terkenal sebagai pelopor dadaisme dan juga karyanya yang berjudul “Fountain” meninggalkan aktifitas perseniannya itu untuk seni lain, yaitu (sudah barang tentu) catur. Ia pernah mengatakan, (parafrase saya) bahwa catur tidak hanya menyimpan banyak keindahan, bahkan catur sifatnya lebih murni daripada seni dalam posisi komersionalitasnya. Dengan asumsi ini, ia mengatakan bahwa catur memiliki unsur seni yang lebih murni daripada karya seni lainnya. Ia juga mencapai sebuah konklusi yang berbunyi, “While all artists are not chess players, all chess players are artist!”

Vladimir Lenin, sewaktu muda dikenal sebagai orang yang jemawa Salah satu sifatnya ini menurut banyak koleganya muncul saat ia bermain catur. Ia selalu menawarkan diri kepada lawannya untuk bermain tanpa satu benteng. Dan ia dikenal selalu memenangkan pertarungan tersebut (mungkin memang kolega-koleganya tidak begitu berkualitas dalam bermain catur). Akan tetapi hobinya bermain catur ini ia tinggalkan demi aktifitas politiknya. Saat ia menjadi pemimpin negara, ia menyatakan kepada rakyatnya bahwa bangsa yang cerdas adalah bangsa yang rakyatnya hobi bermain catur (parafrase saya). Pemerintahannya lalu selalu aktif dalam, selain berperang, mengadakan turnamen-turnamen catur. Tidak heran mengapa juara-juara dunia catur (World Chess Champions) abad 20 dikuasai oleh orang-orang Rusia (masa Uni Soviet) seperti Vladimir Kramnik, Garry Kasparov, Anatoly Karpov, Borris Spassky, Tigran Petrosian, Mikhai Tal, Mikhail Botvinnik, Vasily Smyslov, dan Alexander Alekhine. Sejak 1927 sampai 2007, titel World Chess Champion dikuasai oleh orang-orang Rusia ini, kecuali Max Euwe, Belanda (1935-1937) dan Bobby Fischer, Amerika (1972-1975).

Akan tetapi kejayaan Rusia dalam memegang titel tersebut memang sudah tidak seperti di masa Uni Soviet. Walau pun memang setelah 17 tahun Uni Soviet runtuh, masih dipegang oleh mereka. Karena semenjak Kramnik, tahun 2007, titel tersebut dipegang oleh Viswanathan Anand, India, sampai tahun ini. Penantangnya tahun ini pun bukan berasal dari tanah Rusia, melainkan Bulgaria, Veselin Topalov. (Mohon tidak diinterpretasikan bahwa penulis sedang mengkampanyekan ideologi komunis, ini hanya seputar kebijakan sebuah pemerintahan, yang tentunya bisa diwujudkan tidak hanya dalam pemerintahan sosialis.)

Untuk singkatnya, saya hanya bermaksud untuk menulis sebuah apologia, bahwa catur bukanlah sekadar permainan.

Sokrates – Armides

March 28, 2010

Sokrates sedang berjalan menuju kedai kopi di sebuah desa kecil di pinggir kota Athena. Ia baru saja pergi meninggalkan Hera untuk mengembara dan mencari kehidupan yang lebih baru dan bermakna. Telah lama ia tunggu perpisahan ini semenjak dulu, akhirnya saat seperti ini memunculkankan perannya dalam hidup Sokrates.

Sesampainya di kedai kopi, seorang temannya, Armides, memanggilnya. Sokrates lalu duduk di meja yang sama bersama Armides.

Armides : Raut mukamu terlihat seperti menyimpan sebuah beban, kawan! Ada apa denganmu?

Sokrates : Benarkah demikian? Bagaimana mungkin? Justru aku sedang sangat
berbahagia. Isi pikiranku sekarang sedang sepenuhnya menjadi milikku.

Armides : Apa yang kau maksud dengan itu, kawan?

Sokrates : Untuk menjawab pertanyaanmu, terlebih dulu aku perlu bertanya kepadamu, apakah menurutmu isi pikiranmu sepenuhnya milikmu?

Armides : Ya, aku kira begitu.

Sokrates : Mari kita ambil contoh. Apakah kamu sedang memikirkan Hadel, istrimu?

Armides : Aku selalu memikirkannya.

Sokrates : Apa yang ada di pikiranmu saat engkau memikirkan dia?

Armides : Sungguh banyak. Aku membayangkan dia sedang berada di rumah mengurus kedua anak kami, mencuci baju, memasak, atau kadang-kadang berkumpul dengan teman-temannya. Aku juga memikirkan kelanjutan hidupnya. Apa yang besok harus ia makan, dan lain-lain. Saat aku merindukannya, aku memikirkan hubungan intim kami
berdua.

Sokrates : Itukah yang kau inginkan?

Armides : Aku tak mengerti pertanyaanmu.

Sokrates : Maksudku, apakah pekerjaan dari pikiranmu, engkau arahkan kepada hal-hal yang tadi kau ucapkan? Ataukah pikiranmu itu berkeliaran sendiri tanpa perintah dari dirimu?

Armides : Sepertinya tidak.

Sokrates : Dengan begitu pikiranmu itu bukan sepenuhnya milikmu, kawan.

Armides : Bagaimana mungkin? Hanya aku yang berhak atas pikiranku. Dan berarti ia adalah kepunyaanku.

Sokrates : Tapi, bagaimana mungkin sesuatu yang adalah kepunyaanmu berkeliaran sendiri tanpa kau yang menghendakinya? Berkemilikan adalah sesuatu yang berarti engkau memiliki kuasa penuh atas objek yang kau miliki. Seperti halnya pakaianmu, jika ia kepunyaanmu, ia akan selalu memainkan perannya sesuai dengan apa yang kau inginkan. Ia tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti kehendakmu. Engkau adalah tuan baginya, ia akan mendedikasikan hidupnya hanya demi dirimu, dan semua yang ia
lakukan selalu sesuai dengan keinginan dan kebutuhanmu, tak ada satu pun hal yang ia lakukan yang tidak atas dasar itu. Karena engkau memiliki kekuasaan penuh atas pakaian itu.

Armides : Sepertinya aku mengerti maksudmu, Kawan! Dengan begitu, apakah Hadel juga berarti bukan kepunyaanku, meskipun ia adalah istriku?

Sokrates : Tepat sekali, kawan! Karena alasan itulah baru saja aku meninggalkan Hera.

Armides : Kau meninggalkan dia? Perempuan secantik itu? Apa kau sudah gila?

Sokrates : Kecantikan itu adalah milik alam, kawan. Ia bukan milikku. Aku bahkan merasa hubungan aku dengan dia atau perempuan siapa pun yang sifat hubungannya seperti itu adalah hubungan yang saling menindas satu sama lain.

Armides : Bagaimana mungkin? Apakah itu berarti kalian saling melukai?

Sokrates : Begini, kawan. Perasaan yang mengatakan “Aku membutuhkan dia” adalah sebuah tirani yang meletakkan “dia” sebagai sebuah objek. Selama “dia” adalah seorang manusia, sikap objektivisasi yang diberlakukan kepada “dia” adalah bentuk pembunuhan dirinya sebagai sebuah subjek, sebagai seorang manusia. Dan aku tidak ingin membunuh dia. Aku terlalu mencintainya untuk itu.

Armides : Apakah itu berarti kau juga tidak ingin menjadi objek?

Sokrates : Betapa pun aku mencintai dia atau siapa pun juga, aku ini bukanlah objek. Aku selalu subjek. Kau pun adalah subjek. Semua manusia adalah subjek, dan kita semua sedang dalam perang membunuh satu sama lain dengan menjadikan yang lain sebagai sebuah objek sehingga mereka kehilangan kesubjekannya, yaitu diri mereka sendiri.

Armides : Kau ini gila, kawan!

Sokrates : Bagaimana mungkin? Coba kau jelaskan kepadaku letak kegilaanku!

Armides : Aku belum mampu menemukan caranya.

Maret 2010

Utusan Apollo dan Dionysus

March 28, 2010

Apollo : Dion, aku berencana untuk mengutus seseorang ke bumi untuk sebuah misi.

Dionysus : Misi macam apa?

Apollo : Tidakkah kau lihat, betapa manusia di bumi sekarang sangat membutuhkan sosok pahlawan yang penuh pengharapan?

Dionysus : Aku rasa iya. Tampaknya engkau memang belakangan ini kurang menaruh perhatian kepada bumi, sehingga kekuasaanku merambat ke mana-mana.

Apollo : Maka dari itu aku akan mengutus seseorang.

Dionysus : Lalu, mengapa harus membicarakannya denganku?

Apollo : Tentunya aku akan membutuhkan bantuanmu, wahai kawan oposisi! Misi utusanku pasti tidak akan mampu tergenapkan tanpa seseorang dari kerajaanmu. Engkau juga harus mengutus seseorang untuk membantu utusanku.

Dionysus : Sudah kuduga engkau akan mengatakan itu, kawan! Baiklah, aku akan mengutus seseorang juga ke bumi. Tetapi engkau harus setuju bahwa ini misi kita bukan hanya misimu saja. Dan kita berdua yang mengatur skenarionya. Bagaimana?

Apollo : Baiklah! Itu cukup adil!

Berikut ini adalah sebuah penjabaran sederhana tentang sebuah fenomena atau peristiwa besar yang sangat berperan penting dalam sejarah peradaban manusia. Yaitu kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Tentunya semua kita setuju, pengalaman dunia ini memiliki seorang Yesus merupakan tahap yang tak dapat dipungkiri, dapat disebut “penting”. Persinggahan seorang manusia yang diberi tajuk “Yesus” ke dalam bumi biru ini adalah sebuah titik penting yang dari dahulu hingga sekarang relevansinya tidak terputus-putus. Kejadian demi kejadian yang datang dari padanya seperti perang (di mana akhirnya sebuah budaya tertentu dapat tersebar luas demi kelangsungan hidup manusia), seni (bagaimana sosok dirinya menjadi akar banyak inspirasi), kepercayaan (bagaimana teologinya selalu tersebar ke segala penjuru). (Mohon jangan dianggap bahwa penulis mengatakan bahwa peranan Yesus merupakan yang paling besar dari segala tokoh-tokoh bersejarah lainnya. Karena memang tentu, juga ada nama-nama seperti Sidharta, Muhammad, Gandhi, Alexander Agung, Asoka, Darius, Einstein, Newton, Edison, dan masih banyak yang lainnya, yang dalam pada peranannya di dunia ini merupakan sebuah titik penting dalam ukiran sejarah kehidupan manusia)

Mengapa Yesus yang saya angkat? Karena memang tentunya sosok Yesus adalah sosok yang bisa dibilang paling mendekati kesempurnaan untuk sebuah predikat pahlawan kaum papa. Bagaimana ia memanjakan manusia-manusia di sekitarnya dengan mendemonstrasikan berbagai macam keajaiban-keajaiban seperti menyembuhkan orang-orang sakit, membangunkan orang mati, membuat jalan orang yang lumpuh, membuat orang buta dapat melihat. Semua itu ia lakukan hanya dalam sekejap mata. Ia tentunya adalah sosok yang sungguh logis untuk dijadikan sebuah harapan bagi manusia-manusia yang rindu akan sebuah pengharapan besar. Dengan keahliannya meredakan angin ribut, berjalan di atas air, menyulap lima roti dan dua ikan menjadi cukup untuk makan lima ribu orang. Semua hal seperti itu tentunya merupakan pembuktian bahwa ia mampu membuat dunia (yang penuh dengan manusia pencari harapan) tergiur dan terlena untuk berharap akan keajaiban-keajaibannya. Belum lagi, ajaran-ajarannya mengenai kerajaan Allah melalui perumpamaan-perumpamaannya

yang bijak, yang dapat diinterpretasikan sebagai sebuah surga bagi manusia yang percaya akan dirinya. Tentunya hal-hal seperti itu makin membentuk kepastian akan adanya daya tarik yang hebat dalam dirinya.

Semua hal itu, membuat banyak sekali manusia menganggap dirinya sebagai pahlawan atau penyelamat yang baik, harmonis, dan penuh kedamaian. Mulai dari sini penulis akan menobatkan konsep pahlawan atau penyelamat yang baik, harmonis, dan penuh kedamaian ini dengan tajuk “Utusan Apollo”. Sebagaimana diketahui, dewa Apollo lah yang menjabat sebagai dewa keharmonisan. Seperti Yesus, di tengah-tengah kebobrokan moral manusia, ia mencoba menjadi contoh sebuah sosok yang sangat bermoral.

Yudas Iskariot, dalam kesempatan ini akan saya nobatkan sebagai “Utusan Dionysus”. Yang dalam peranannya sebagai seorang manusia, tidak kalah lebih berhasil daripada Yesus untuk memenuhi takdir masing-masing serta jalan hidup peradaban manusia sampai sekarang.

Mungkin adalah sebuah sikap yang naif bila penulis mencoba untuk mengingatkan pembaca tentang pentingnya keseimbangan dan hal-hal berlawanan dalam kehidupan ini. tapi sejujurnya, itulah yang akan menjadi tujuan dari tulisan ini.

Coba kita sedikit pikirkan. Sosok mana yang selalu lebih menonjol secara komprehensif dalam permukaan pemikiran sebagian besar umat manusia. Apakah Yesus? Ataukah Yudas? Tentu jawabannya adalah Yesus. Dan siapa sosok yang sangat dikenal sebagai seorang pendosa? Tentu jawabannya adalah Yudas. Tetapi hal ini hanyalah yang terletak pada permukaan, bukan sebuah pemikiran yang terdapat di dalam (beyond) kehakikiannya.

Tetapi, kenyataan seperti itu adalah sebuah bukti yang sangat kuat bahwa sebagian besar manusia hidup dan berpikir hanya di permukaan. Karena tentunya bila harus ditilik ke dalam, sosok seorang Yudas adalah akar jiwa kepahlawanan untuk kebangkitan Yesus. Sederhananya adalah seperti ini; bila Yesus tidak bangkit dari kematian, harapan manusia akan sosok pahlawan kekal yang bisa diharapkan tentunya akan sirna, sedangkan kebangkitan itu tidak akan terjadi jika Yesus tidak mati, dan kematian Yesus pun tidak akan terjadi jika Yudas tidak menjual Yesus kepada imam-imam kepala. Dari proses sebab-akibat ini, bisa disimpulkan bahwa tanpa Yudas kebangkitan itu tidak akan terjadi.

Sebelum perjamuan terakhir bersama murid-muridnya, Yesus berkata kepada murid-muridnya,
“Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan” – Matius 26:24).
Dari kalimat ini tentunya sangat tersirat jelas bagaimana Yesus yang mengaku sebagai utusan Allah sebenarnya mengetahui bahwa kematian akan datang padanya, dan ia juga tahu bahwa salah satu muridnya lah yang akan menyerahkan dia. Tetapi bila kita lihat dari perspektif pragmatis kalimat Yesus di atas, sangat penuh dengan konotasi rasa benci terhadap Yudas. Ia bahkan sampai mengutuk Yudas, sebagai orang yang akan menyerahkan dirinya. Mengatakan bahwa adalah lebih baik bila Yudas tidak pernah dilahirkan (Yang sebenarnya berarti ingin melebihi kuasa Allah yang telah menentukan apa yang telah, sedang, dan akan terjadi). Hal ini juga sangat bertentangan dengan apa yang pernah ia ajarkan mengenai bagaimana manusia seharusnya mengasihi musuhnya (Dapat dikatakan musuh karena sesuai konstruksi sosial yang ada, tentunya seseorang yang dengan sengaja mencelakakan orang lain dapat disebut dengan musuh). Tetapi tentu, sifat Yesus yang seperti ini jarang sekali muncul ke permukaan (dijadikan wacana).

Dalam keseluruhan proses sebab-akibat ini, manusia pada umumnya bersedih hanya untuk Yesus sang “Utusan Apollo” ini, karena ia difitnah, disalibkan, lambungnya ditikam, tangan dan kakinya yang dipaku, dan lain sebagainya. Sementara kenyataannya adalah bahwa ia bangkit dan sehat-sehat saja. Dan ia tetap menjadi sosok seorang pahlawan.

Tetapi sangat jarang sekali sosok Yudas “Utusan Dionysus” ini dijadikan sosok pahlawan, padahal dia lah akar semua proses sebab-akibat ini terjadi. Manusia pada umumnya bahkan mengklaim Yudas sebagai “pengkhianat”. Jarang sekali ada manusia yang menaruh iba kepada nasib yang ditanggungnya.

Sementara pada hakikatnya, Yudas Iskariot hanya menjalankan takdirnya seperti apa yang telah tertulis. Ia bahkan tidak pernah mengutuk Yesus, tidak seperti apa yang dilakukan Yesus kepada Yudas. Bahkan ciuman yang diberikan kepada Yesus dianggap sebagai ciuman seorang pengkhianat. Di mana pada hakikat sebenarnya, ia hanya memainkan sebuah peran sesuai skenario yang tertulis. Dan, sungguh ironis, karena pada kenyataannya kebanyakan manusia merasa kasihan justru kepada Yesus, yang padahal perannya dalam skenario itu adalah seorang yang hebat, pahlawan yang baik, serta guru yang sangat bijaksana. Sedangkan Yudas, jarang sekali mendapatkan rasa iba atau pun sedikit apresiasi, padahal ia justru memainkan peran yang sangat berat dan paling menyedihkan dalam skenario tersebut.

Oktober 2009

Sahabat Alam

March 28, 2010

Seorang pria berkumis tebal, berperangai santai sedang duduk bersandar di atas sebuah pohon jambu. Tak berbaju dan tanpa alas kaki. Hanya dirinya, celana pendek dan celana dalamnya serta pohon jambu itu, di punggung bukit yang hanya tersisa rerumputan dan pohon jambu tempat ia bersandar.

*

Pria itu adalah aku, kawan! Aku lah yang sedang selonjoran itu. Beralaskan sebuah dahan pohon jambu, bertemankan buahnya yang kumakan dan kupegang dalam kepalan tangan, sesekali aku lempar. Desir-desir angin dengan lemahnya menggoda diriku untuk jatuh. Angin yang berhembus mengirimkan wangi yang tak begitu sejuk karena telah sedikit terkontaminasi oleh bau dedaunan pohon jambu.

Aku di sini. Bersembunyi dari mentari siang yang sedang sangat galak memanfaatkan puncak kekuasaannya. Membuat elang-elang yang biasa bermain di udara enggan menari bersama desir angin punggung bukit. Dedaunan yang selalu kompak bergerak dihembus angin menyuarakan jeritan derita atas kesewenangan api bulat besar yang memanfaatkan puncak kekuasaannya secara semena-mena.

Aku ini bukan seorang pria berkumis biasa tentunya. Aku adalah sahabat alam. Aku lah yang baru saja menebas seluruh pohon-pohon di sini sehingga rerumputan menjadi manja terkena sengatnya matahari. Mereka sudah terlalu biasa dinaungi oleh pohon-pohon besar yang hanya sampai kemarin mampu melindungi mereka.

Betapa tak tahu berterimakasihnya rerumputan itu! Kemarin-kemarin selalu saja mengeluh dan mengumpat kepada pohon-pohon besar karena selalu saja mengambil sebagian besar jatah oksigen mereka di kala malam. Tapi setelah pohon-pohon itu tiada, kembali mereka mengeluh karena sudah tidak ada lagi pohon-pohon itu yang biasanya melindungi mereka dari teriknya sumber panas tata surya. Dasar rerumputan tak tahu diri!

“Hei kau, rerumputan! Berterimakasihlah kau telah aku tebang pepohonan yang selama ini kau bilang selalu saja mengambil jatah oksigenmu dan tak pernah berhenti menghalangi pemandangan cakrawalamu!” ujarku sedikit kesal kepada rerumputan.

Aku memang bisa berbicara dengan mereka. Berbagai macam bahasa alam telah aku kuasai. Aku sungguh piawai dalam hal itu. Tetapi yang aku bingung adalah kenyataan bahwa ternyata bahasa-bahasa yang digunakan tumbuhan-tumbuhan yang berbeda jenis tidaklah sama. Seperti rerumputan itu, ia tak pernah mampu berkomunikasi dengan pepohonan yang sebelumnya menaungi kaumnya. Keluhannya tidak pernah didengar oleh pohon-pohon besar itu. Walau aku mampu berbicara dengan pepohonan itu dalam bahasa mereka, aku juga tidak pernah memberitahu mereka atas keluhan-keluhan rerumputan kepada pohon-pohon besar itu sampai kemarin saat mereka aku tebang.

Kemarin sungguhlah hari yang melelahkan bagiku. Aku harus menebang tiga puluh pohon besar yang bersemanyam di punggung bukit ini. Aku katakan kepada mereka sebelum usia mereka harus aku tutup. Aku menjelaskan bahwa aku membutuhkan untuk membunuh mereka semua demi menyambung hidupku. “Aku harus makan. Butuh uang untuk membeli makanan. Dan cara aku mendapatkan uang saat ini sejauh wawasan yang aku miliki adalah dengan menebangmu, kawan.” Pohon-pohon besar itu pun dengan bijak mempersilahkan aku melakukannya. Pemimpin pasukan pohon yang terdiri dari tiga puluh itu menjawab, “Mungkin sudah waktunya bagiku untuk tercerai berai! Menjadi sesuatu yang lebih berguna bagi alam selain hanya berdiri terus di sini laksana tugu, aku rela mengorbankan diriku untuk menyelamatkan nyawamu dan demi kelangsungan kesejahteraan makhluk lainnya, mungkin aku akan menjadi penopang rumah manusia, mungkin juga aku akan menjadi meja, kursi, almari, atau hal-hal lainnya yang dulu pernah kau ceritakan padaku. Jujur kami semua di sini pun sudah cukup bosan dari kecil sampai sekarang sudah setua ini hanya berdiri terus di tempat yang sama. Aku ingin bagian-bagian tubuhku merasakan seperti apa yang engkau rasakan. Bepergian jauh dan mengelilingi cakrawala untuk melihat keindahan serta kekayaan yang terdapat di dalamnya. Meski fajar, senja, awan, langit, bulan, bintang, dan matahari adalah unsur-unsur keindahan yang memang selalu melindungi kami. Kami semua juga ingin bepergian jalan-jalan, meski bagian tubuh kami harus terpisah-pisah kesana kemari menjadi benda yang berbeda-beda pula.”

“Terima kasih, kawan.” Aku menjawab. Kalian semua akan menjadi pahlawan kesejahteraan hidup makhluk-makhluk lain di luar sana, termasuk aku. Kalian akan menjadi benda-benda mati yang memiliki esensi fungsional bagi kehidupan makhluk lainnya. Aku menjaminkan hal itu kepada kalian. Memang suatu hal yang menyedihkan untuk harus berkata-kata seperti itu kepada seorang teman. Tetapi layaknya sebuah pertemuan, selalu saja diakhiri sebuah perpisahan. Di mana alam selalu saja mempermainkan perasaan setiap makhluk, bukan hanya manusia. Diberinya kita sebuah dunia untuk berlabuh, diberinya kita beberapa orang yang kita sayangi untuk kita saling berbagi dan mengisi waktu-waktu yang entah harus diisi dengan apa. Lalu, ya seperti perpisahan aku dengan tiga puluh pohon kemarin. Tak dapat dipungkiri, bagian itu aku sungguh bersedih dan terharu akan makna sebuah perpisahan. Sebuah rasa di mana kita didorong untuk merenungkan betapa indahnya hari-hari kemarin yang telah dihabiskan bersama. “Begitulah, kawan!” ujarku kepada pemimpin pohon, “Determinasi alam harus terus berjalan. Ia memiliki roda rotasinya tersendiri. Kita hanyalah partikel kecil yang membentuk roda rotasi itu. Tetapi pilihan tetap ada di tangan kita, untuk menjadi partikel yang memancarkan warna tersendiri atau menjadi partikel yang terasimilasi partikel-partikel lain yang telah berkumpul membuat warna seragam yang tidak sesuai dengan warna dasar masing-masing mereka yang asli.” Mengharukan memang perpisahan itu. Ditambah lagi tanganku sendiri yang harus menebang menghabisi nyawa teman-temanku sendiri.

Kini hanya sebuah pohon jambu yang tidak begitu besar yang aku sisakan. Ia yang menjadi bukti bahwa aku tidak membunuh kelompok pohon itu demi sebuah kerakusan. Mungkin hanya pohon jambu, dahan, ranting, daun, serta buahnya yang mengerti apa yang aku maksudkan. Elang dan burung-burung lainnya, semut-semut yang berbaris kolektif dalam kekompakan, birunya langit, gumpalan awan, dan teriknya matahari, serta angin yang berhembus damai menyapa pori-pori, mereka mungkin tidak akan mengerti karena memiliki bahasa yang berbeda. Aku selalu membicarakan wacana yang berbeda dalam setiap bahasa, jadi masalah perpisahanku dengan pepohonan itu tidak ada anggota alam lainnya yang tahu.

*

Ya, itulah caraku untuk selalu menyambung hidup dan mampu memberi kepuasan terhadap perutku yang selalu saja memerintahku laksana raja. Selalu harus diberi makan. Bukan salahku tentunya jika aku menjadi buronan yang selalu dituduh menebang pohon sembarangan. Aku hanya hamba perutku sendiri. Ia adalah rajaku. Setiap permintaannya selalu saja menjadi alasan aku untuk hidup dan bekerja.

Seperti manusia-manusia biasa lainnya yang menjadi hamba-hamba tuan mereka masing-masing. Tuan mereka berbeda-beda dengan tuanku tentunya. Tuanku adalah perutku. Tuan mereka mungkin adalah uang, kekuasaan, jabatan, dan kemewahan. Ada juga yang menjadi hamba penis dan vagina. Banyak dari yang aku lihat menjadi hamba cinta, persahabatan, anak, rokok, alkohol, ilmu pengetahuan, dan berbagai macam hal lainnya. Aku rasa segala sesuatu memang bisa dilantik sebagai seorang tuan. Manusia tentunya selalu saja menjadi hamba. Tetapi sayang banyak dari mereka yang tidak menyadarinya, bahkan ada juga yang selalu menyangkal dan berkeras kepala menobatkan diri sebagai tuan, seakan tidak pantas menjadi seorang hamba.

Ah, sudahlah, kawan! Aku harus pergi mencari bukit lain.

September 2009

Koherensi Kapitalisme dengan Perbudakan

March 28, 2010

kapitalisme yang lahir di masa industrialisasi, yang serta membentuk sebuah konotasi baru dalam diksi perbudakan, baru sekarang aku rasakan makna yang terkandung dalam asosiasi kata tersebut. bagaimana ideologi tersebut mampu menciptakan sebuah perbudakan baik dalam arti manusia sebagai penanam modal, distributor, konsumen serta pekerja.

dalam KBBI cetakan terakhir, perbudakan berasal dari kata budak yang mengandung definisi hamba, jongos, dan orang gajian. yang bila ditambahkan imbuhan per-an menjadi sebuah fenomenologi kata budak itu sendiri. fenomena ini aneh, kawan! fenomena ini sebenarnya lebih busuk daripada hukum rimba! fenomena ini seakan-akan membuat manusia lebih bodoh daripada binatang-binatang hutan. fenomena ini seakan-akan sebusuk perang. hanya saja tanpa senjata yang nyata namun menusuk dan mematikan.

kemarin-kemarin aku sangat jauh dari realita ini. aku hanya menganggap semua itu sebuah wacana. saat sekarang, aku merasa memang semua manusia terlebih yang sekarang terkutuk untuk menjalankan hidup di awal abad ke21 ini, harus menjadi anggota labirin wabah kapitalisme. tak mungkin ada yang tak tersentuh!

sistem ini sangat tak jauh berbeda dengan hukum rimba, sungguh! ideologi ini lah yang telah menjadi sistem dan ladang di mana manusia harus bertahan hidup. sistem yang kacau! yang tak terkendali! yang terlepas dari tangan yang seharusnya menjadi pengendali! yang telah menjadikan kita budak sistem tersebut. hanya saja kita terkadang tidak merasa atau bahkan menyibukkan diri dengan semua kesibukan yang kita pun sebenarnya tahu bahwa itu adalah bagian dari sistem yang gigan ini. ketidak pedulian lah yang memang memabukkan manusia untuk terlena dalam surealisme agar lepas dari realita bahwa kita semua merupakan budak dari sistem terkutuk ini.

that’s why they always say that ignorance is bliss and reality sucks, while they actually know that ignorance is stupidity and the only real thing is reality!

2009

Tangis!

March 28, 2010

Aku sedang sangat membutuhkan tangis!
sangat membutuhkan air mata agar keluar dari mata dan hati!

Segala kebahagiaan dan kesedihan dalam dunia ini semua nyata kehampaannya
Semua nyata kemiskinannya
Semua nyata kedangkalannya

Aku benar-benar pusing
Pusing sepusing-pusingnya
Benar sebenar-benarnya
Bahwa aku benar sepusing-pusingnya
Pusing benar pusingku ini
Membuat benar para pusing dalam pusing yang membenarkan pusing
Tak pernah ada pusing sepusing benar
Bahkan benar dan pusing tak pernah membenar walau memusing
Pusing terus memusing namun benar tak pernah membenar!
Kebenaran dalam kepusingan sama dengan kepusingan dalam kebenaran
Kelima indera memusing demi kebenaran
Kelima indera membenar demi kepusingan

Air mataku akan terus berusaha untuk keluar dari penjaranya. Untuk membebas ke udara. Untuk menikmati kebahagiaannya. Air mataku ingin sekali berevolusi atas kesewenang-wenangan dunia. Air mataku berhasrat tinggi untuk bergejolak melawan ketidakbenaran yang selalu ditemukannya. Air mataku, air mataku, oh air mataku!

Tidurku menolak aku. Lelapku tidak menerima aku. Kesunyianku telah dirampok oleh dunia. Kesendirianku telah terbang. Mungkin ia tersinggung karna terkadang aku acuhkan. Keakuanku sudah terlalu terkontaminasi oleh kebukanakuan yang terlalu banyak dalam jumlah yang terlalu besar, sehingga membuatku sekarang tumpah ruah. Bagai bak mandi yang terus diisi oleh air kesengsaraan dan kebahagiaan yang bercampur atas nama air kehidupan. Bak mandiku bocor. Bak mandiku kotor. Keranku rusak tak dapat tertutup. Airnya terus mengalir deras sehingga bak mandiku tak mampu lagi menampungnya.

Ibaku semakin lama semakin layu. Simpatiku seperti bunga yang terlalu haus matahari. Mungkin karna ia telah mengetahui bahwa matahari tersebut adalah palsu. Simpatiku injak kaki dari rumahku. Ia pergi bersama arwah Zarathustra yang diciptakan Nietzsche. Semua hilang. Aku seakan menemukan sesuatu yang sangat baru, namun sangat bersedih karna telah kehilangan yang lama.

Di depan sana gurun pasir dan puncak gunung aku tahu. Di depan sana lumpur samudera dan planet pluto, aku tahu. Di belakangku hanya bambu-bambu gelap yang menggodaku dan siap menikamku kapan saja aku mengarahkan kepalaku ke arah sana.

Beruntung sayapku masih mampu berfungsi. Ia seperti sapu lidi Harry Potter yang mampu membawaku ke tempat yang aku tak tahu namun aku yakin aku membutuhkan tempat-tempat dimana sapu tersebut membawaku. Aku sangat percaya kepada sapuku itu. Sapuku hati nuraniku. Airmataku isi hatiku. Pikiranku harapanku. Tubuhku musuhku. Dagingku penjaraku. Jiwaku tetap selalu aku yang meng-aku.

Depok, 4 September 2008

Wacana titik kesamaan Heraklitus, Hegel, dan Sidharta Gautama

March 28, 2010

Terkadang setiap kita manusia terlalu congkak dengan keberadaan kita yang sedang di atas awan, juga depresi ketika eksistensi kita sedang berada di bawah tanah, yang terinjak, bahkan diberaki oleh mereka yang sedang berada di atas.

Tentunya semua ini sudah menjadi makanan sehari-hari setiap manusia. Senang lalu sedih, tertawa lalu menangis, marah lalu bermanja, atau pun sebaliknya. Memang terlalu naïf bila kita harus memberi label kepada semua ini sebagai sebuah aspek atau pun elemen kehidupan. Orang yang sudah merasa dirinya dewasa tentunya tidak mau menjadikan hal ini sebuah wacana atau pun mengajarkan kepada mereka mengenai hal-hal seperti ini, baik untuk kebaikan yang diajar atau pun status sosial yang mengajar.

Yang ingin saya coba jabarkan adalah, pertama: Konsep Heraklitus mengenai perang, perselisihan, wacana pro dan kontra, dan sinonim-sinonim lainnya adalah bahwa hal tersebut adalah ayah dan raja dari segalanya. Perselisihan atau perang memang harus terjadi, tarik menarik antara kedua pihak selalu saja membentuk sesuatu yang baru yang sifatnya harmonis. Akan tetapi, harus selalu dicegah bila sampai ada kemenangan yang mutlak di salah satu pihak.

Yang kedua adalah konsep dialektika Hegel. Formula “Thesis + Anti-thesis = Synthesis”, adalah sebuah wujud baru dalam meneruskan pemikiran Heraklitus di jaman yang berbeda. Dalam formula yang dikenal dengan “dialektika” tersebut, tentunya tersirat bahwa segala bentuk perlawanan serta kekontraan dari segala sesuatu sangatlah diperlukan demi mencapai sebuah – dalam hal ini – kebenaran yang utuh, mandiri serta mutlak.

Memang tidak sesuai dengan alur sejarah, tapi yang ketiga adalah konsep keharmonisan Sidharta Gautama tentang titik tengah yang adalah titik di mana sebuah keharmonisan hidup dengan dirinya sendiri dan menunggu untuk dipanggil keluar menampakkan keberadaannya. Ia menganalogikannya dengan analogi yang mungkin sudah sering didengar, “senar gitar”, senar gitar akan putus bila ditarik terlalu kencang, juga tidak akan menghasilkan bunyi bila terlalu kendor. Titik tengah dalam senar gitar yang dapat mengeluarkan bunyi yang indah ini adalah titik keharmonisan itu sendiri.

Titik tengah ini, kawan! Titik tengah ini lah yang dalam pengertian paling absolut yang disebut dengan “Harmoni”. Harmoni yang dalam arti sebenar-benarnya, bukan hanya sebatas artian “hidup yang aman, tentram, damai, tenang, dan sejahtera”. Hal-hal tersebut hanyalah mimpi utopia kaum elit aristokrat.

(Ya…..interpretasikanlah!!

Walau terlalu naïf dan sedikit dangkal)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.