Untuk memulai, saya harus memberikan salut terlebih dahulu kepada Christopher Nolan sebagai penulis cerita sekaligus sutradara dan produser dari film yang hebat sekaligus brengsek ini.
Selama dua jam setengah, kita disuguhkan hasil karyanya Nolan ini. Tentu sangat membuat kepala pegal, baik karena kompleksitas keseluruhan cerita, ketidakmasukakalan yang masuk ke kepala kita, atau pun ketidakmengertian bagi beberapa orang. Bagi saya, film ini benar-benar menyebalkan karena penuh dengan kejanggalan dan pengganggu di dalamnya. Akan tetapi film ini sekaligus sangatlah menarik bila ditilik dari sisi kompleksitas cerita, sinematografi, dan pesan dari tema-tema yang diangkat. Hal ini membuat saya terpaksa menulis ini sebagai sebuah muntahan dari kepala. Berikut penjabarannya.
Kejanggalan:
1. Yang paling dasar dan menyebalkan adalah ide inception itu sendiri. Ide yang ingin ditanamkan Cobb dan timnya kepada Fischer adalah bahwa Fischer sebaiknya menjadi diri sendiri saja. Tidak perlu pusing dengan apa yang kira-kira menjadi harapan ayahnya. Mengapa untuk menanamkan sebuah ide yang sangat sederhana seperti itu saja dibuat seakan-akan sangat rumit jalannya menuju ke sana. Maksud saya adalah, semua anak yang sudah dewasa atau mandiri pasti akan memilih jalan hidup yang ia pilih sendiri, tidak selalu jalan yang diinginkan orang tuanya. Saya juga tidak melihat alasan yang kuat mengapa Fischer merasa terbebani untuk seakan-akan harus melanjutkan bisnis sang ayah, walau pun alasannya adalah cinta terhadap ayahnya. Itu sulit untuk diterima, apalagi kepada seorang ayah yang saat istrinya meninggal berkata kepada anaknya sendiri, “There is nothing to be sad about!”
2. Ada adegan di mana mereka sedang rapat di markas. Lalu masuk ke dalam mimpi level satu yang dibuat oleh Ariadne. Di tengah jalan kota itu mereka berdiri hanya berenam. Tidak ada subconscious-nya (orang-orangan/projections) siapa pun yang hadir di situ. Hal ini jelas tidak sesuai dengan logika film yang dibuat Nolan. Karena bila ternyata sebenarnya kemunculan subconscious itu bisa diatur, hal tersebut sangat berlawanan dengan pernyataan Domm saat memberikan workshop kepada Ariadne, “They’re my subconscious. I have no control of them!”. Di mana berarti hukum yang sebenarnya adalah bahwa subconscious tidak bisa diatur oleh si pemimpi.
3. Bila Mal selalu datang untuk menghancurkan misi-misi Cobb (atau katakanlah dalam mimpi-mimpi Cobb). Apa yang membuat dia tidak muncul pada level satu?
4. Pada misi yang pertama. Saat Nash mendorong Cobb sampai terjatuh di air dalam bak untuk membangunkannya dengan sebuah ‘kick’, di dalam mimpi level dua Cobb didatangi banjiran air saat selesai membaca rahasia Saito. Apa yang membuat sama sekali tidak ada air di dalam lift level dua saat mobil mereka di level satu tenggelam di sungai?
5. Apa yang membuat di dalam Limbo tidak ada subconscious-nya (orang-orangan/projections) milik Cobb atau pun Mal. Karena Saito yang berada di sana hidup bersama subconscious-nya sendiri (penjaga-penjaga yang menangkap Cobb).
6. Apa juga yang membuat usia Saito di dalam Limbo sangat jauh lebih tua dari Cobb? Bila karena jangka waktu antara Saito yang meninggal setelah melempar granat dengan Cobb dan Ariadne yang masuk ke dalam Limbo, apa yang membuat Fischer yang diikat Mal di sana tidak tampak tua sedikit pun? Padahal jangka waktu Fischer dan Saito masuk ke dalam Limbo sangat tidak jauh berbeda!
7. Kejanggalan yang terakhir jelas. Adegan kecil yang membuat hampir semua penonton “digantungin” oleh Nolan. Berputarnya spinning top milik Cobb yang lalu diputus begitu saja oleh Nolan dengan layar hitam, tanpa sedikit pun petunjuk apakah benda itu jatuh atau tidak. Membuat kita tidak bisa berkesimpulan apakah itu mimpi atau realita. Karena bila ternyata itu adalah mimpi, itu berarti mimpi Cobb di dalam Limbo. Sulit untuk di-masuk-akal-kan karena menurut logika film tersebut, di Limbo saja (yang juga bisa dibilang level 4) sudah sangat sepi (tanpa projections of subconscious), apa yang bisa membuat mimpi level 5 begitu ramai? Akan tetapi bila itu adalah realita, apa maksud dari adegan terakhir spinning top yang tidak jatuh-jatuh? Mengapa kedua anak Cobb berpakaian sama dan dalam posisi yang sama seperti di mimpi-mimpinya? Mengapa juga tidak ditunjukkan sang nenek yang berbicara di telfon dengan Cobb setelah ia berbicara dengan kedua anaknya? Saya rasa untuk mengatakan itu semua hanya keisengan Nolan (dalam menciptakan adegan-adegan itu) adalah satu-satunya yang masuk akal. Tetapi itu pun jelas sangat kurang memuaskan.
Pengganggu:
1. Kalimat yang dilontarkan ayahnya, saat Cobb meminta bantuan untuk arsitek baru. Ayahnya berkata, “Come back to reality, Cobb! Please!” entah ini metafor sindiran atau bukan, yang jelas ini mengundang sebuah interpretasi bahwa sebenarnya Cobb hanya sedang bermimpi, dan ayahnya lah yang menginginkan Cobb untuk bangun. Karena biar bagaimana pun, dia lah yang mengajarkan Cobb untuk memanipulasi pikiran orang melalui mimpi, yang berarti ada kemungkinan ayahnya lebih piawai daripada Cobb dalam memanipulasi pikiran orang lain melalui mimpi. Akan tetapi hal ini akan terbentur dengan hukum yang diciptakan dalam film tersebut mengenai spinning top yang berputar. Dan bila ternyata level realita itu adalah mimpi berarti hukum spinning top pun tidak begitu penting, bahkan tidak berlaku. Bila demikian, adegan terakhir yang brengsek itu berarti bukan masalah. Akan tetapi, bila adegan itu bukan lah sesuatu, mengapa Nolan memilih untuk terlalu iseng memasang adegan itu sebagai penutup? Bisa jadi memang karena adegan itu sebenarnya memiliki arti, “This is the most important thing! Your totem! The Power of your mind! Keep it strong and safe! Don’t let anyone touch it, so they won’t infect your mind!”. Hal ini menjadikannya sangat multi-tafsir.
2. Saat Cobb menceritakan semuanya mengenai dia dan Mal kepada Ariadne. Kita tidak diberi petunjuk oleh Nolan, di level mana kah cerita Cobb dan Mal yang menjadi realita? Karena bila realitanya adalah level di mana Mal melompat dari gedung, tentunya pasti Cobb sedang berada di dalam penjara karena disangka membunuh Mal. Dan kedua anaknya tidak mungkin mempertanyakan ibunya. Karena pasti ada upacara pemakaman dan sebagainya sehingga anak-anaknya tidak perlu menanyakan kepada Cobb mengenai keberadaan ibunya seperti percakapan yang terjadi di telfon. Tetapi juga, bila level di mana Mal melompat dari gedung itu adalah mimpi, mengapa Mal harus mati? Bila toh, dia terdampar di dalam Limbo, mengapa Cobb tidak menjemput Mal seperti ia menjemput Saito? Ini membuat ketidakjelasan kematian Mal bisa dinobatkan sebagai pengganggu besar.
3. Adegan di basement Yusuf saat melihat banyak orang-orang tua tidur. Eames bertanya kepada kakek-kakek penjaga, “Do they come here to sleep?”. Sang kakek menjawab “They don’t come here to sleep. They come here to be woken up. The dream has become their reality. Who are you to say otherwise?”. Yang aneh adalah, jawabannya itu diarahkan kepada Cobb dengan penuh kesinisan, sementara yang sebenarnya bertanya adalah Eames. Ini mengundang interpretasi seperti poin satu di atas. Ada kemungkinan realita di level itu adalah mimpi. Belum lagi saat Cobb mencoba alat itu dan langsung jatuh ke mimpi bersama Mal lalu tersentak bangun dan pergi ke kamar mandi untuk memeriksa apakah dia sedang bermimpi atau tidak dengan spinning top-nya, ia dikagetkan Saito yang tiba-tiba datang. Spinning top itu pun terjatuh dan tidak jadi diputar. Ia langsung mengangkatnya lalu dimasukkan ke dalam kantong. Tidak ada penegasan apakah itu mimpi atau bukan. Tetapi bila itu mimpi, permasalahannya sama seperti pada poin satu di atas.
4. Lagi-lagi! Selain menjadi kejanggalan, adegan terakhir juga saya masukkan ke dalam golongan pengganggu.
Kemenarikan:
1. Tak bisa dipungkiri Christopher Nolan sangat piawai dalam membuat kita berhasrat untuk menggali lebih dalam mengenai karyanya ini. Dengan begitu, bila itu ternyata yang ia inginkan, berarti dia adalah “Sang Inseptor” bagi kita. Hal ini memang antara menarik atau “Dasar, Nolan Brengsek!”
2. Tak bisa dipungkiri juga aksi-aksi di dalam film tersebut sangat dahsyat sinematografinya (setidaknya bagi saya).
3. Pesan-pesan yang terkandung dalam tema-tema yang Nolan coba untuk angkat di dalam film ini juga sangat dalam (setidaknya bagi saya), ditambah dengan kemasan yang juga tak kalah menarik. Tema dan pesan yang saya temukan antara lain adalah mengenai
(a) Cinta,
“You’re waiting for a train, a train that will take you far away. You know where you hope this train will take you, but you don’t know for sure. But it doesn’t matter. Because we’ll be together.”
(b) Buruknya hidup dengan penyesalan,
“Do you want to become an old man, filled with regret, waiting to die alone?”
(c) Kepercayaan,
“Take a leap of faith!”, dan
(d) betapa pentingnya kebersamaan keluarga. Biar bagaimana pun, hal ini yang menjadi inti narasi, betapa Cobb sangat ingin hidup kembali bersama kedua anaknya di dalam dunia nyata.
4. Dari semua keganjalan-keganjalan dan pengganggu-pengganggu yang saya temukan, hanya ada satu dari mereka yang bisa saya temukan jawabannya, yaitu mengenai adegan yang tadinya saya anggap paling brengsek, yaitu adegan terakhir. Untuk merespon apakah bagian akhir itu mimpi atau realita, menurut saya jawabannya terdapat pada kalimat si kakek tua yang menjaga orang-orang lansia yang tidur di basement milik Yusuf, saat ia berkata kepada Cobb, “They don’t come here to sleep. They come here to be woken up. The dream has become their reality. Who are you to say otherwise?”
Menurut saya, kira-kira itu lah pertimbangan Nolan mengapa ia memasukkan adegan terakhir itu. Ia meneruskan keraguan a la Descartes dalam memutuskan ketidakpastian apakah hidup kita sekarang ini mimpi atau bukan, bahwa tidak ada jaminan untuk jawaban yang absolutnya. Nolan tidak ingin kita memutuskan mana yang mimpi, dan mana yang nyata. Karena, “Who are we to say which is which? And who are we to say otherwise?”
Sekian dari saya…..
Selanjutnya, dibuka kritikan, masukkan, dan pendapat-pendapat yang mungkin belum terpaparkan….
Terima kasih..